Ingin membuat studio game

Kenapa kamu mau terjun ke industri game?

Apa yang kamu cari dari industri game?

Apa tujuan jangka panjang kamu?

Itu adalah beberapa pertanyaan yang selalu saya tanyakan dalam proses rekrutmen Agate Studio pada tahap interview. (Kalau mau siapin jawaban jauh-jauh hari silakan lho, anggap saja ujian open book :D) Alasan kenapa pertanyaan-pertanyaan itu yang diajukan ceritanya panjang, mungkin lain kali saya ceritakan. Tapi yang ingin saya sorot adalah ada kecenderungan untuk seorang kandidat menjawab: “Saya ingin membuat studio game saya sendiri”.

Yang akan saya tulis di sini adalah pendapat saya tentang keinginan membuat studio game kamu sendiri. Saya bukan bermaksud menyatakan bahwa itu adalah hal yang salah, bukan juga menyatakan bahwa itu adalah hal yang harus dilakukan semua orang. Saya ingin berbagi berbagai konsekuensi dari “ingin membuat studio game sendiri”, yang takutnya belum diketahui oleh yang bersangkutan, berdasarkan dari pengalaman saya dan teman-teman membangun Agate Studio.

Start with why

Salah satu video yang selalu saya minta crew baru di Agate untuk tonton adalah presentasi Simon Sinek tentang “How great leaders inspire action”, yang merupakan bagian dari bukunya Start with Why. Kurang lebih pesannya adalah untuk bisa berhasil di suatu hal, kita harus memiliki alasan yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Ini menjadi perbedaan antara orang yang mengejar mimpinya dengan membuat sesuatu dan orang yang mengejar kekayaan dengan melakukan hal yang sama (refer ke cerita Wright bersaudara dan usaha mereka membuat pesawat terbang). Ini jadi respon pertama saya terhadap orang yang “ingin membuat studio game sendiri”: Kenapa kamu mau membuat studio game kamu sendiri?

Walau hal yang ingin dilakukan sama, yaitu “membuat studio game sendiri”, tapi ternyata alasan atau tujuan orang untuk melakukan itu berbeda-beda. Umumnya bilang ingin memujudkan ide mereka menjadi game, ada juga yang merasa itu adalah the next logical step setelah mendapatkan pengalaman kerja di suatu studio game development, ada yang ingin memajukan industri kreatif di daerah asalnya, ada juga yang karena sudah janjian dengan teman-temannya. Semua alasan tersebut masuk akal dan tidak ada yang salah. But here is the plot twist:

You don’t have necessarily to build your own studio to achieve those goals.

Tidak harus membuat studio game

Tidak semua target-target tersebut harus dicapai dengan membuat studio game. Misalnya ingin mewujudkan ide game kamu bisa dicapai dengan beberapa cara:

  • Polish your game design, iterate, improve. Share your idea in your team. Kalau memang idenya bagus bisa jadi studio kamu saat ini tertarik untuk mewujudkan ide kamu.
  • Terus bekerja dan berkembang ke bagian manajerial, agar kamu punya suara untuk menentukan arah produk di studio kamu.
  • Buat game kamu di waktu luang atau berkolaborasi dengan orang lain di komunitas.
  • Bayar orang lain untuk membuat game itu untuk kamu. Bukan opsi yang umum dilakukan, tapi kalau memang punya resourcenya (baca: modal) bisa saja dilakukan.

Ini semua akan kembali ke alasan kamu terjun ke industri game dan apa yang sebenarnya kamu cari dari industri game. Kekayaan? Popularitas? Atau sekedar senang solve problem yang menantang? Mewujudkan mimpi masa kecil? Banyak jalan ke Roma, banyak jalan mencapai mimpi kamu, dan belum tentu harus dicapai dengan membuat studio game kamu sendiri.

Konsekuensi membuat studio game

Saya bukannya anti dengan “membuat studio game sendiri” (justru saya melakukan hal itu dengan teman-teman di Agate), tapi saya khawatir kalau ada orang yang salah paham dengan kenapa mereka perlu membuat studio game. Bikin studio game itu berbeda dengan membuat game. Kalau membuat game itu susah, membuat studio game itu susah banget. Dan membuat studio game sambil belajar membuat game itu lebih susah lagi. Percayalah.

Saya takut kesalahpahaman itu membuat ada orang-orang yang jadi kapok dengan industri game, orang-orang yang mungkin bilang “Duh, susah ya survive di industri game Indonesia” yang dalam kenyataannya mereka melakukan beberapa hal sekaligus: membuat game, membuat studio, berkecimpung di industri yang masih baru. Agate pun akhirnya berusaha mentackle tantangan yang ada satu per satu. Walaupun belum banyak game Agate yang mencapai kesuksesan yang kami harapkan, tapi saya bisa bilang sistem di internal Agate sudah cukup baik, setidaknya kami bisa menjalankan studio dari 2009 dengan jumlah crew saat ini lebih dari 50 orang.

Berikut adalah gambaran perbedaan membuat game dengan membuat studio game:

Yang perlu dipikirkan dalam membuat game:

  • Teknologi yang digunakan
  • Game design
  • Timeline dan milestone pembuatan game

Yang perlu dipikirkan dalam membuat studio game:

  • Business model
  • Revenue stream (pemasukan)
  • Project management
  • Rekrutmen, seleksi, training,
  • Payroll, penentuan gaji, tunjangan, bonus, komisi
  • Akunting, pajak, gaji, dan berbagai kegiatan finansial lain
  • Marketing dan promosi, Facebok ads, Analytics,
  • Sarana prasarana. Kantor, komputer, listrik, air, internet, iuran warga
  • Company culture, leadership, team building
  • Fanbase, social media, website, blog
  • Hubungan dengan media, press release, kunjungan, interview
  • Community management, customer service
  • Aktifitas komunitas, undangan kegiatan dari institusi lain (pemerintah, akademis, asosiasi)
  • Kerjasama dengan vendor, payment channel, platform
  • Investasi atau pinjaman modal

Agate beruntung memiliki founder dalam jumlah banyak, sehingga bisa bagi-bagi tanggung jawab untuk mempelajari berbagai hal pendukung untuk membangun studio game. Tapi ini akan sulit untuk dilakukan satu atau dua orang. Bukan tidak bisa, tapi sulit.

Kalau memang perlu membuat studio game?

Bagaimana kalau tujuannya memang hanya bisa dicapai dengan membuat studio game? Misalnya memajukan industri game di daerah asal. By all means, go ahead and build your studio (or at least prepare yourself for it). Pastikan selama waktu kamu bekerja sebagai game developer kamu juga mengumpulkan pengetahuan tentang membangun studio game. Banyak-banyak baca buku bisnis, biografi atau sejarah perusahaan lain, atau ikut event-event startup. Kalau kamu saat ini fresh graduate, then you will need to learn your craft (programming, art, game design, etc) AND the knowledge to build game studio. Perjalanannya tidak akan mudah, tapi kalau untuk mencapai mimpi kita pasti harus kita lakukan kan :)

This is my old post from May 19th 2015