Kamu adalah kebiasaanmu

Kebiasaan malu menjawab akan menghambat kesuksesan kita.


Informatika ITB meminta saya dan Teguh untuk sharing tentang dunia industri/dunia kerja dari sudut pandang Agate Studio, dengan tujuan agar para mahasiswa baru bisa mendapat gambaran dunia kerja itu seperti apa sehingga mereka bisa mulai mempersiapkan diri. Alumni lain yang diundang adalah Oka Sugandi dari Sangkuriang International.

Kalau disebut mempersiapkan diri agak ambisius memang, karena mereka baru akan mulai kuliah Informatika seminggu dari event ini. Setahun sebelumnya dihabiskan untuk program bersama (TPB) di bawah naungan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI). Mereka baru memilih ‘jurusan’ di akhir tahun pertama.

Ada beberapa hal menarik yang saya perhatikan dari anak-anak Informatika ini:

  1. Barisan pertama di ruangan kuliah kosong melompong, seakan dibiarkan kosong untuk tamu atau dijadikan tameng pertahanan dari para pembicara di depan.
  2. Masih ada yang datang terlambat, dan mereka langsung mengisi kursi kosong di barisan-barisan paling belakang.
  3. Rata-rata ketika saya sebagai moderator atau pembicara bertanya ke peserta, tidak ada yang volunteer menjawab (dengan mengacungkan tangan terlebih dahulu). Yang terjadi adalah: mereka bergumam menjawab bersama-sama, atau menunggu ditunjuk (akhirnya kami menunjuk peserta berdasarkan NIM secara random).

Mungkin hal-hal ini umum terjadi di kampus mana saja, bukan hanya di almamater saya. Mungkin hal-hal ini sudah dianggap biasa atau bukan hal penting. (Dan sebenarnya kondisi yang kurang lebih mirip sempat terjadi di angkatan saya dulu.) Tapi saya khawatir kalau hal-hal tadi terus dilakukan, peluang adik-adik kelas saya untuk sukses akan berkurang.

Pertanyaan pertama

Di awal acara, saya lontarkan pertanyaan pembuka:

“Siapa yang sudah punya gambaran jelas, nanti kalau sudah lulus dari IF ITB mau ngapain atau mau jadi apa?”

Tidak ada yang mengacungkan tangan.

Saya coba ganti pertanyaannya:

“Siapa yang bisa ceritakan, kenapa kalian memilih Informatika?” (Ada 5 jurusan yang bisa dipilih di STEI)

Tidak ada yang mengacungkan tangan.

Terpaksa saya sebut NIM untuk memaksa seseorang menjawab. Karena NIM *014 (NIM saya dulu) belum datang, saya coba panggil NIM *028 (NIM Teguh dulu), ternyata ada, dan kebetulan orangnya duduk di depan. Jawabannya atas dua pertanyaan di atas menarik:

  • Tertarik masuk IF karena terinspirasi banyak film Science Fiction seperti Mission Impossible.
  • Setelah lulus tertarik terjun ke bidang Cyber Security.

Sebagai volunteer kedua, saya minta salah satu peserta yang datang terlambat untuk menjawab:

  • Setelah lulus ingin membuat bisnis restoran yang didukung oleh sistem IT yang canggih.

Setelah berjanji tidak akan memaksa peserta menceritakan motivasi dan mimpi mereka setelah lulus, saya minta peserta mengacungkan tangan jika mereka punya gambaran jelas mau jadi apa setelah lulus dari IF ITB.

Hampir setengah ruangan mengacungkan tangan.

Dari sampling acak yang saya lakukan, saya melihat ada masalah dengan adik kelas saya. Masalahnya bukan tidak ada yang mengacungkan tangan. Masalahnya adalah mereka punya jawaban, bisa menjawab tapi tidak mau menjawab.


Kamu adalah kebiasaanmu

Manusia itu sulit berubah. Bukannya tidak bisa, tapi sulit. Kelakuan kita saat ini akan mencerminkan kelakuan kita di masa depan.

Our future self will most likely do things just like our present self.

Take procastination for example, kita menunda pekerjaan yang seharusnya kita lakukan sekarang dan berharap our future-self akan mengerjakan pekerjaan tersebut. Apa yang menjamin our future-self tidak akan menunda pekerjaan tersebut untuk dikerjakan our future-future-self?


Sepanjang acara, kami (moderator dan pembicara) harus terus menunjuk menggunakan NIM untuk mendapat jawaban dari peserta. Dan sebagian besar sudah tahu jawabannya.

Malu menjawab tidak akan membuat kita mendapatkan hasil atau kesempatan yang lebih baik.

Ada dua hal yang bisa terjadi kalau kita menjawab pertanyaan:

  • Jawaban kita ternyata salah, tapi kita jadi tahu jawaban yang benar (dan kemungkinan besar akan mengingatnya lebih baik). Berdasarkan Cunningham’s Law: “the best way to get the right answer on the Internet is not to ask a question, it’s to post the wrong answer.”
  • Jawaban kita benar dan kita terlihat pintar.

image Tapi, hal yang akan terjadi terlepas dari benar atau salahnya jawaban kita, adalah kita akan mendapat rekognisi dari orang lain. People will know that we are willing to learn, people will know that we can do it.

Beberapa hal dan peluang yang bisa terjadi jika kita aktif menjawab dan sukarela:

  • Dosen akan lebih mengingat kita, sehingga saat kita membutuhkan bantuan dosen tersebut (bertanya tentang kuliah, koreksi nilai, negosiasi tugas), dosen tersebut akan lebih mau membantu kita.
  • Kita akan dikenal oleh teman-teman sekelas.
  • Melatih komunikasi dan meningkatkan rasa percaya diri.

Pengalaman di Agate Studio

Hal-hal yang saya bicarakan di sini adalah berdasarkan pengalaman yang saya dan teman-teman alami sendiri di Agate Studio.

  • Contoh yang paling saya ingat adalah dua tahun pertama Agate Studio. Sempat ada suatu kesempatan untuk mengisi workshop pembuatan game menggunakan XNA dan Silverlight. Ketika ada pertanyaan “Siapa yang mau menjadi trainer untuk workshop ini?” Satu-satunya yang mengajukan diri adalah Shieny Aprilia, salah satu founder Agate. Yang menarik, di titik itu Shieny belum pernah menjadi trainer workshop Silverlight, bahkan belum terlalu menguasai Silverlight. Yang menarik, karena mengisi workshop tersebut, Shieny mendapat banyak peluang, seperti membuat buku “Membuat game dengan Silverlight” sampai menjadi MVP Microsoft di bagian XNA/DirectX tahun 2011. Selain itu Shieny mendapat kesempatan untuk membuat game lebih banyak, dan menjadi programmer yang paling banyak membuat game di Agate saat itu.
  • Contoh berikutnya adalah ketika saya volunteer menjadi head of operation di Agate di sekitar tahun 2009-2010. Berbeda dengan Shieny yang mendapat hasil positif, yang saya dapatkan adalah pelajaran bahwa saya belum memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasional studio atau menjalankan project management. Walaupun akhirnya mendapatkan hal negatif, kegagalan ini akhirnya membuka jalan untuk saya untuk terlibat di Human Resource dan recruitment di Agate, yang sampai saat ini masih saya lakukan.

Boiling point

Keadaan sesi sharing membaik saat sesi tanya jawab, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan dalam dua sesi tanya jawab yang diberikan. Satu peserta bahkan mengajukan tiga pertanyaan sekaligus. Di titik ini saya sudah lupa tentang hal malu menjawab tadi dan fokus membantu proses tanya jawab.

FYI, di awal acara, mereka diminta (oleh Kaprodi) untuk membuat resume dari sesi sharing ini. Dan saya dititipi untuk mengumpulkan resumenya.

Saat mengumpulkan kertas resume, saya minta seseorang untuk menceritakan resume yang mereka buat. Saya ingin tahu, apa saja yang mereka dapat dari sesi sharing kali ini.

Tidak ada yang mengacungkan tangan.


That’s it. I can’t take this anymore. They have to know the truth:

Being shy is not good for your success.

Mungkin untuk mereka ini hal sepele, mungkin karena moderatornya terlihat tidak serius karena banyak tertawa. Tapi justru hal-hal kecil seperti ini yang perlu kita perhatikan. Kebiasaan malu menjawab akan menghambat kesuksesan kita.

Kalau mereka terus bersikap seperti ini, dan suatu saat nanti ada peluang besar di depan mata tapi mereka malu-malu, bisa jadi mereka melepaskannya begitu saja hanya karena alasan malu. Mungkin saja suatu hari nanti:

  • Ada dosen yang bertanya “Siapa yang mau mengambil beasiswa S2?”
  • Ada atasan yang bertanya “Siapa yang berani handle project X?”
  • Ada investor yang bertanya “Berapa modal yang kamu butuhkan?”

Semoga mereka mengerti pesan yang ingin saya sampaikan. Semoga saya tidak dianggap sekedar menceramahi. Semoga bukan dianggap sebagai tindak senioritas alumni.

I was there, I did those things, and I don’t want you to learn the hard way.

Faith to humanity restored

“Setelah saya cerita seperti itu, adakah yang mau menceritakan apa yang kamu dapat dari sesi sharing ini?”

Ada satu orang yang mengacungkan tangan.

Thank God. Kalau masih tidak ada yang mengacungkan tangan mungkin saya akan langung menutup dan membubarkan acaranya. :|

Kudos to that one person that shares his thoughts. Maaf saya tidak ingat nama atau NIM kamu. Tapi saya yakin kalau kamu terus bersikap aktif dan tidak malu-malu, kamu bisa sukses di bidang apapun yang kamu mau.

Pelajaran kali ini:

Lain kali kalau ada kesempatan, please raise your hand and show them what you’ve got. You can do it.

This is my old post from August 10th 2014